Apa yang anda pikirkan ketika mendengar Sumatera Utara? Mayoritas akan menjawab macet, jalan berlubang, kemiskinan, akses kesehatan susah, urusan birokrasi yang sulit, dan sebagainya. Ntah mengapa, kemudian Sumatera Utara hanya terdiri dari kepingan-kepingan kebobrokan yang bahkan pendapat itu datang dari warganya sendiri.

Kemudian, apa yang salah dengan Sumatera Utara? Kekayaan alamnya luar biasa, mulai dari hasil pertanian, laut, tambang, sampai kepada destinasi wisata Sumatera Utara punya. Belum lagi beragam budaya dari suku, etnis, dan agama yang beragam telah hidup berdampingan dengan rukun di provisi ini.

Sumut tidak kekurangan apapun. Hanya saja satu kekurangan Sumut, pengelolaan yang kurang baik. Beberapa periode Sumut dipimpin oleh mereka yang mementingkan kebutuhan perutnya sendiri, dibanding kebutuhan rakyatnya yang telah menjerit-jerit karena kesulitan di luar sana.

Alhasil, sumber daya, kekayaan, dan segala macamnya menjadi sebuah kesia-siaan, atau malah hanya dinikmati segelintir orang, yang membuat warga Sumut hanya tinggal menggigit jari.

Lalu apakah warga Sumut ingin selamanya berada dalam situasi yang sama? Tahun ini menjadi penentunya, 27 Juni 2018, akan menjadi tonggak sejarah perubahan Sumatera Utara yang berada di tangan warganya.

Lantas, pemimpin seperti apa yang Sumut butuhkan? Pemimpin yang seyogyanya datang untuk melayani bukan dilayani. Pemimpin yang sepak terjangnya telah teruji dalam dunia birokrasi, berintegritas, dan tegas.

Ibarat seorang wanita, Sumut harus memilih mempelai pria yang benar-benar ia kenal dan ketahui kecerdasannya, keloyalitasannya, dan telah kuat secara materi atau lebih tepatnya matang untuk membina sebuah hubungan. Bukan sosok yang baru ia kenal dan bahkan belum memiliki pengalaman apapun untuk memajukan dirinya.

Menilik ke sana, satu-satunya yang berpengalaman dalam dunia birokrasi yang maju dalam kontestasi Pilkada Sumut hanya sosok Djarot. Sosoknya sudah tersohor bahkan hampir di seluruh penjuru Indonesia. Tangan dinginnya telah membuat warga ibukota DKI Jakarta nyaman tinggal di kotanya, yang dulunya masalah klasik seperti yang dialami Sumut masih berseliweran di sana.

Selain DKI Jakarta, pengalaman Djarot di bidang birokrasi juga terbukti dengan terpilihnya Djarot selama dua periode (2000-2010) sebagai Walikota Blitar.

Di tangan Djarot, Blitar tumbuh menjadi kota yang bersih dan nyaman, terbukti dengan penghargaan Adipura yang diterima Blitar di bawah kepemimpinan Djarot. Beliau sangat membatasi pertumbuhan kehidupan metropolitan yang mewah di kota nya, dengan membatasi pembangunan mall dan gedung pencakar langit. Sebaliknya, Djarot fokus dalam menata pedagang kaki lima dan berhasil menata alun-alun kota yang kumuh dengan pedagang kaki lima, menjadi wilayah yang tertata rapi.

Hal ini pula yang mengantarkannya mendapat predikat Wali Kota Terbaik versi majalah tempo tahun 2008, dan membawa Blitar pada peringkat pertama dalam penerapan E-government se-provinsi Jawa Timur. Selain dari luar, bagi warga Blitar sendiri sosok Djarot merupakan sosok sederhana yang merakyat dan gemar meninjau langsung keadaan warganya lewat blusukan.

Saat menjabat di DKI Jakarta pun, Djarot tidak lepas dari penghargaan yang diberikan kepadanya sebagai seorang kreator, yakni kreator, wakil gubernur yang menyita perhatian dunia dalam keberaniannya dalam melawan korupsi dan SARA.

Belum lagi Djarot didampingi seorang pengusaha sukses yang telah berpengalaman dalam sektor industri dan merupakan seorang akademisi dalam bidang ekonomi, Sihar Sitorus.

Pada akhirnya, fokus pengembangan sektor ekonomi rakyat kecil, yang dulunya kurang diperhatikan akan mendapat perhatian khusus untuk kemudian boleh menjadi komoditi ekspor Sumut.
Nah, sekarang pilihan ada di tangan warga Sumatera Utara.

Kekayaan Sumatera Utara akan menjadi sia-sia kembali, jika warga Sumatera Utara salah pilih dalam Pilgubsu 2018. Ingat, untuk Sumut, jangan coba-coba! Pilih yang benar-benar berpengalaman dan siap melayani masyarakat untuk mensejahterakan warganya.