Kabar Terbaru

Twitter

Saat ini sdang brlangsung kgiatan Silaturahmi & Doa Bersama Djarot-Sihar brsama sluruh rlawan DJOSS di Posko DJOSS… https://t.co/tYZu7IaWcK

4 months ago

Follow

Mari bersama #DjarotSihar memperjuangkan perubahan Sumatera Utara. Jangan kita biarkan mereka berjuang sendirian. P… https://t.co/K22RxBpzqw

4 months ago

Follow

Saat ini, bnyak tanah2 adat yg jga jdi jarahan para penguasa/pengusaha. Kami sdah brtekad akan mnyelesaikan konflik… https://t.co/FtKZk2MCst

4 months ago

Follow

Bnyak pemimpin, pahlawan yg berasal dri Sumatera Utara yg patut diteladani. Prjuangan merekalah yg selalu memotivas… https://t.co/jZxDz0Lzwx

4 months ago

Follow
25 Oct 2018
Djarot-Syaiful-Hidayat-1024x682Djarot-Syaiful-Hidayat-1024x682

Lahirnya era Reformasi mengantarkan dosen ini terjun ke dunia politik praktis. Ia bergabung dengan PDI Perjuangan dan berhasil menduduki jabatan politik baik sebagai anggota legislatif maupun eksekutif. Sukses di daerah, Djarot Saiful Hidayat diutus partainya menjadi wakil gubernur DKI mendampingi Ahok. Pria kelahiran Magelang, 6 Juli 1962 ini adalah anak keempat dari keluarga M. Thoyib, seorang pensiunan militer dari detasemen perhubungan. Djarot menikah dengan Heppy Ferinda, dan dikaruniai tiga orang anak; Farida Prameswari, Karunia Dwi Hapsa Paramasari, dan Meisa Rizki.

Pemilik nama lengkap Djarot Saiful Hidayat ini biasa dipanggil Djarot. Nama panggilan Djarot sebetulnya bukan nama aslinya. Saat lahir ia diberi nama Saiful Hidayat. Nama Djarot sendiri, berawal dari panggilan seorang tukang tempe langganan sang ibu, dan kebetulan ketika kecil dirinya sering diasuh oleh penjual tempe langganan ibunya. Saat diasuh tukang tempe langganan ibunya, dia suka dipanggil Djarot kemudian nama itu melekat nama itu pada dirinya.

Sejak saat itu, orang tuanya menambahkan nama Djarot sehingga namanya sekarang menjadi Djarot Saiful Hidayat. Karena ada pengubahan nama tersebut, Djarot pun harus mengurus akta kelahiran ke kelurahan lantaran akta sebelumnya tercantum nama Saiful Hidayat. Djarot memberikan alasan kepada kelurahan karena ketika kecil dia sering sakit-sakitan, maka perlu ditambah nama Djarot.

Dalam hal pendidikan, Djarot terbilang beruntung. Dia sukses menamatkan pendidikan sarjananya di Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur dan melanjutkan masternya Fakultas Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Djarot memulai kariernya sebagai dosen. Dia adalah dosen di Universitas 17 Agustus (Untag) 1945 Surabaya, Jawa Timur. Karier akademiknya mulai meroket dari dosen, dekan, hingga Pembantu Rektor Untag 1945.

Pada awal Reformasi, tahun 1998, Djarot mencoba karier barunya di dunia politik. Pada tahun 1999, dia bergabung dengan PDIP untuk maju sebagai calon anggota legislatif daerah dan dia terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Timur periode 1999-2004.

Baru setahun menjadi anggota legislatif, Djarot pilih haluan untuk berkarier ke dunia eksekutif. Pada tahun 2000, dia bertarung maju untuk menjadi Walikota Blitar. Dalam Pilkada tersebut, Djarot terpilih sebagai Walikota periode 2000-2005. Pada Pilkada berikutnnya, Djarot sukses kembali menjadi Walikota Blitar untuk kedua kalinya.

Setelah menjabat Walikota Blitar selama dua periode, Djarot kembali aktif di PDIP tingkat Provinsi Jawa Timur hingga kemudian mencalonkan diri sebagai caleg DPR pusat. Dia terpilih untuk periode 2014-2019. Lagi-lagi, belum lama menjalankan tugas dewan, dia diajukan PDIP Pusat untuk menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta yang kosong.

Dia menggantikan posisi Ahok yang naik menjadi gubernur menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi presiden. Ia pun resmi mendampingi Ahok untuk periode 2014-2017. Jelang masa baktinya berakahir, Djarot kembali diminta PDIP berpasangan dengan Ahok untuk Pilgub DKI 2017.

PENDIDIKAN

  • S1, Universitas Brawijaya, Malang Fakultas Ilmu Administrasi, 1986
  • S2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Fakultas Ilmu Politik, 1991
  • International Workshop
  • Universitas Amsterdam (Universiteit van Amsterdam – UvA), 2002

KARIER

  • Dosen di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
  • Pembantu Rektor I Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya, 1997-1999
  • Pembantu Dekan FIA, UNTAG Surabaya, 1984-1991
  • Dekan FIA, UNTAG Surabaya, 1991-1997
  • Ketua Komisi A DPRD Jawa Timur, 1999-2000
  • Wali Kota Blitar, 2000-2010
  • Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan, 2005-2010
  • Ketua I Pappuda PDI Perjuangan, 1999
  • Deputi I BADIKLATDA Jawa Timur, 2001
  • Ketua Bidang Organisasi DPP PDI Perjuangan, 2010-2015
  • Ketua DPD PA GMNI Jawa Timur, 2010-2014
  • Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, 2014
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta, 2014-2017
  • Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kalimantan Timur, sebagai pelaksana tugas (Plt) ketua

PENGHARGAAN

  • Penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah, 2008
  • Penghargaan Terbaik Citizen’s Charter Bidang Kesehatan, Anugerah Adipura, 2006, 2007, dan 2008
  • Otonomi Award dari Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP)
  • Penghargaan atas terobosan inovasi daerah se-Provinsi Jawa Timur di dalam pembangunan daerahnya, 2008
  • Penghargaan Upakarti, 2007
  • Peringkat Pertama dalam penerapan E-Government di Jawa Timur, 2010