Tingkat partisipasi masyarakat Sumatera Utara, khususnya kota Medan pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013 yang lalu sangat rendah. Keadaan Sumatera Utara yang seakan jalan di tempat, membuat masyarakat enggan untuk berpartisipasi memilih kepala daerah yang akan memimpin mereka. Tercatat, pada Pilgubsu 2013, dari 2.121.551 pemilih terdaftar, hanya 36,62 persen saja yang memberikan hak pilih, sedangkan yang 63,38 persen memilih menjadi golongan putih.

Hal inilah yang selalu ditegaskan Djarot Saiful Hidayat, calon Gubernur Sumatera Utara nomor urut dua. Dalam sambutannya di Rapat Kerja Cabang Khusus DPC PDIP Kota Medan Februari lalu, Djarot menegaskan bahwa dirinya ditugaskan untuk maju dalam Pilkada Sumatera Utara oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri, untuk membawa perubahan di Sumatera Utara.

“Saya sengaja dikirim oleh Ibu Mega agar masyarakat, khususnya masyarakat Sumatera Utara, kembali percaya kepada partai politik yang saat ini kepercayaan masyarakat kepada partai politik ada di titik terendah,” tutur Djarot.

Terkhusus kota Medan, Djarot menilai kemenangan dalam Pilgubsu di Ibukota Sumatera Utara ini sangat penting. “Pertempuran Pilgubsu ini sesungguhnya ada di Kota Medan. Ini ibukota Provinsi Sumatera Utara. Kalau kita menang di Medan, maka pasangan Djarot dan Sihar akan mendapatkan legitimasi yang kuat jika menang nantinya,” jelas Djarot.

Untuk itu, Djarot mengimbau agar seluruh kader PDIP bersinergi dengan para relawan dalam mendukung Djarot-Sihar memenangkan Pilgubsu 2018, pada 27 Juni mendatang. “Sapa kelompok-kelompok relawan yang ada. Bekerja bersama-samalah untuk menyapa masyarakat, dengan begitu maka kita dapat kemenangan maksimal,” tegasnya.

Akan hal ini Djarot optimis, melihat kehadiran dari seluruh struktur partai PDIP di Kota Medan, baik dari tingkat DPC, PAC, Ranting, Anak Ranting, Badan dan Sayap Partai. “Melihat kehadiran ini, maka angka kemenangan realistis 60 persen di Kota Medan,” tegas Djarot.