Para pendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) dan KH Ma’ruf Amin, ternyata bukan sekadar ingin memenangkan pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2019. Kerja-kerja pemenangan ternyata diselipi juga misi untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan serta pemantapan produk pangan Indonesia.

Salah satu yang melakukannya adalah mantan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, yang baru pulang dari Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Dia membawa serta produk kopi lokal bermerek “Tabodo”. “Tabodo itu bahasa Batak. Artinya, enak,” kata Djarot di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Jumat (26/10) malam.

Djarot datang ke Posko Cemara karena pernah berjanji membawa oleh-oleh kalau dia berkunjung ke Sumut. Djarot saat ini memang tercatat juga sebagai caleg dari Partai Demokrasi Indonesa Perjuangan (PDIP) untuk Daerah Pemilihan Sumut 3. “Yang saya bawa ini disebut di sana sebagai kopi lintong,” kata Djarot.

Dia pun fasih menjelaskan soal kopi jenis arabica dan robusta, karakteristik, serta bahwa kopi lintong termasuk jenis arabica yang tumbuh di daerah dataran tinggi. Baginya, “Tabodo” membuktikan Indonesia kaya akan berbagai macam komoditas yang bisa diolah dan dikemas dengan baik. Dengan kualitas pengemasan sangat baik, maka “Tabodo” sudah diekspor.

Lalu, kenapa Djarot tiba-tiba bicara soal kopi? Kata dia, sama seperti yang lainnya, dirinya ditugaskan di Sumut, bukan hanya berjuang untuk pemilu legislatif dan pemilu presiden. Dia juga menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh Sumatara Utara yang berorientasi ekspor.

Dijelaskannya, Presiden Jokowi telah melakukan berbagai pembangunan infrastruktur di Sumut. Hal itu dilakukan salah satunya demi membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dalam konteks itu, komoditas kopi ekspor, seperti Tabodo, menjadi bukti bahwa pembangunan itu telah berhasil membangkitkan ekonomi kerakyatan.

“Harus diakui, itu hanya bisa terjadi kalau pemerintah pusat turun tangan dan membantu pengembangan wilayah di seluruh provinsi di Indonesia,” ujar Djarot. Dikatakan, dengan berbagai potensi kopi Indonesia yang kaya, anak-anak muda Indonesia bisa lebih berkreasi demi membangun merek kopi Indonesia yang menembus pasar dunia.

Dia yakin, anak-anak muda Indonesia mampu melawan dominasi Italia dan merek dagang asing lain, seperti Starbucks, yang telah lebih dulu memasuki ceruk itu. “Masih banyak yang bisa dikembangkan. Contohnya, untuk kecantikan kita ada gambir. Untuk pewangi ada bunga kenanga, bunga kamboja. Minyak sereh, jahe, kencur kemenyan, barus, dan lain-lain,” ujarnya.

(Sumber: beritasatu.com)